Perkara Upah Buruh Tak Sesederhana Itu

  • Bagikan
Upah Buruh
Ilustrasi Upah. Gambar : Istimewa

INDOtayang.com – Selain kabar beruntun tentang kekerasan seksual baru-baru ini, berlanjut persiapan debat ucapan Selamat Natal, akhir tahun jadi momen rutin perbincangan tentang upah minimum buruh. Dan ketika sedang sedih-sedihnya membaca kisah Novia Widyasari yang mengakhiri hidup di atas pusara ayahandanya, mata saya menyambar satu unggahan ramai di Instagram.

“Buruh mendapat gaji (upah) 4 juta per bulan, 20 hari kerja. Tiap hari dia produksi barang yang modalnya 100 ribu, terjual dengan harga 300 ribu. Berarti dia ngasih laba ke pabrik 200 ribu per hari atau 40 juta selama 20 hari kerja. Bisa ngasih laba 40 juta ke pabrik, tapi mendapat gaji 4 juta (1:10). Kira-kira ini perbudakan apa enggak?”

Saya tertegun membaca kalimat-kalimat itu. Sesaat saya ingin marah, berontak, dengan segenap gelegak perlawanan di dada saya. Anak muda yang keren memang harus sering marah, bukan? Marah kepada keadaan, marah kepada nasib, marah kepada kekuasaan, marah kepada situasi struktural yang amburadul dan menciptakan segala ketidakpastian masa depan.

Tetapi, tanpa menunggu lama, saya segera sadar bahwa sebenarnya saya tidak terlalu muda lagi. Maka, alih-alih melanjutkan amarah, saya malah jadi teringat pengalaman saya bertahun-tahun sebagai buruh, sekaligus pengalaman bertahun-tahun pula sebagai juragan kecil-kecilan.

  • Bagikan